Langsung ke konten utama

LITERASI INSTING

Cerpen Created by Ulfatul Khabibah


Ana tidak lagi menjadi pembawa kertas untuk kelangsungan hidupnya, karena dia sekarang sudah ditempatkan sebagai petinggi suatu institusi pemerintah. Tugasnya hanya menyampaikan ilmu yang ia miliki dan memberikan nilai atas kemampuan pelajarnya.

Ana yang notabene pengajar, selalu membawa laptop yang didalamnya ada materi yang akan diajarkan.pengajaran menurut sisi Ana bukan hanya sekedar menyampaikan ilmu, tapi juga ngilmu. Ngilmu itu tidak sama dengan ilmu,ngilmu didapat dari pengalaman atau kisah pencarian suatu pengetahuan baru yang mana terkandung nilai moral didalamnya. Ana selalu merasa kalau pekerjaan yang sedang dilakoni nya adalah titipan sang pencipta kepadanya.
Dalam lingkup kehidupan Ana,dia tinggal bersama seorang keturunan Nabi Adam yang setia menemani dikala duka maupun suka. Dia tak lain tak bukan adalah anak laki-laki Ana, yang sekarang sudah menginjak semester 5 di kamus ternama. Ana sangat memperhatikan Wildan, ya itu nama anak Ana. Dengan penuh perhatian dan kasih sayang dia curahkan buat anak semata wayangnya.
Kegiatan yang dikerjakan Ana setiap kali sampai rumah adalah menyiapkan materi yang akan dia sampaikan. Ana begitu memperhatikan murid-muridnya layaknya anak kandungnya. 

Sebelum Ana berangkat bekerja, dia selalu mengucapkan wejangan buat Wildan agar tidak lupa untuk berdoa sebelum melakukan sesuatu ataupun waktu berangkat ke kampus.
Masuk dalam peradaban yang serba modern, Wildan menampakkan perubahan dari segala sisi. Ana semakin was-was akan pergaulan anaknya itu, padahal Wildan sudah sangat dewasa buat diperlakukan se begitu worry nya apalagi dia seorang laki-laki yang pastinya sudah bisa menjaga diri. Tapi itulah sikap seorang Ibu terhadap anaknya demi menjaga nya walau nyawa taruhannya.
........................$$$$$.....................

Ketika matahari mau menampakkan keindahannya, Wildan pamit kepada Ana untuk pergi ke kampus. Ana pun spontak mengeluarkan wejangan-wejangan yang biasanya diutarakan. Alih-alih Wildan memotong perkataan Ana, 
"Ma, Idan udah gede gak usah se khawatir gitu deh. Toh Idan juga anak laki, tapi mama perlakuin Idan kayak cewek yang lemah gak bisa ngelindungin diri sendiri". 
Ana hanya bisa diam mendengar perkataan anak semata wayangnya, sedangkan Wildan meninggalkan tempat makan tanpa mempedulikan mamanya yang masih ngomong 
"Dan mama cuma mau pesan satu aja, nanti kalau pulang jangan malam-malam yak, hati mama rasanya enggak enak. Takut di jalan ada apa-apa nanti". Wejangan terakhir Ana tak digubris Wildan dan langsung pergi ke kampus pakai motor vespa.

Dengan hati yang gundah, Ana pergi untuk menunaikan kewajibannya sebagai dosen. Pukul menunjukkan 07 tepat, dia langsung menaiki anak tangga menuju lantai 2. Sesampainya di ruang kelas Ana mengajar seperti biasa walau hatinya gundah gulana terpikir perkataan anaknya tadi. Di akhir-akhir jam pelajaran, Ana juga tidak lupa memberi wejangan kepada anak didiknya, Ana teralihkan pandangannya kepada mahasiswa perempuan yang kakinya sedang memar dibalut perban. "Nak, itu kakimu kenapa?" tanya Ana kepada mahasiswa nya. 
"Habis jatuh dari motor bu, di srempet ibu-ibu dari belakang" jelas sang anak didik.

Deg, hati Ana semakin gelisah akan penjelasan mahasiswa tadi, ingatan akan anak semata wayangnya kini semakin menjadi-jadi, pemikirannya yang tadi pagi spontan dia rasakan membuatnya tidak fokus. Selang beberapa menit dia terbangun akan lamunannya yang tidak karuan itu. Wejangan yang diberikan kepada anak didiknya yang tadi terputus akhirnya dilanjutkan Ana, walaupun mahasiswa itu bukan anak dari rahimnya, tetapi tetap saja Ana menganggap semua anak yang diajarkannya itu seperti anak kandung nya sendiri yang masih butuh didikan dari orang yang lebih dewasa darinya.


Jam telah menunjukkan 4 sore, Ana pun bergegas untuk pulang jikalau anaknya sudah pulang dan membutuhkan bantuan dari Ibunya. Tapi hasilnya pun nihil, Wildan belum pulang. Akhirnya Ana memutuskan untuk masak buat anak kesayangannya itu.
Hari semakin petang, tadi tanda-tanda kepulang Wildan belum terlihat sama sekali, rasanya hati Ana seperti tercabik-cabik oleh serigala. Namun beberapa detik kemudian Ana mendapatkan ponselnya yang berbunyi menandakan ada telepon masuk, tergesa-gesa Ana mengangkatnya. 
"Halo, nak kau dimana? Kok jam segini belum pulang? Halo nak?" tidak ada jawaban dari ponsel itu detik pertamanya. 
Tapi setelahnya ada suara anak laki-laki tapi bukan anak semata wayangnya. Ternyata yang menelpon dirinya dengan ponselnya Wildan adalah teman kelasnya Wildan yang memberitahukan bahwa Wildan sedang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan ringan, tapi perasaan seorang Ibu tidak bisa dipungkiri terhadap anaknya jikalau terjadi sesuatu walau tidak seberapa. Ana dengan keadaan menangis menyusuri rumah mencari kunci mobilnya dan melajukannya di jalan yang sudah sedikit berkurang atas keramaiannya dikarena para penghuni jalan dalam keadaan dialam mimpi.

Setibanya di rumah sakit, Ana menemukan anaknya dengan keadaan siuman. Dengan hati yang masih campur aduk dia langsung berlari memeluk Wildan. 
"Ma, ma lepasin Idan ma, idan enggak bisa nafas nih" ucap Wildan seraya menahan sakit dilehernya yang disebabkan oleh Ibunya. 
"Idan besok-besok enggak boleh ambek-ambekan sama mama ya, mama khawatir kalau nantinya Idan ninggalin mama sendiri" ucap Ana dengan hati yang lega karena anaknya tidak apa-apa. 
"Ma maafin Idan ya, karena enggak mau dengerin wejangan mama, Idan udah terperisok pada kehidupan modern yang dominan kemuramannya dan malah enggak dengerin mama yang sedari dulu ngurusin Idan sampai sebesar ini dan se-ganteng ini" kata Wildan sambil membanggakan dirinya sendir.
Akhirnya Wildan dan Ana pum berbaikan seperti sahabat yang telah lama terpisahkan. 

Kekuatan Insting seorang Ibu memang tidak pernah salah terhadap anaknya, sudah sepatutnya kita patuhi dan hormati orang tua kita yang telah membesarkan kita dengan jerih payahnya yang tak pernah bisa kita ganti oleh apapun. Maka dari itu mumpung orang tua kita masih ada di dunia ini dan masih lengkap, sayangilah Beliau seperti kalian sayangi pacar-pacar kalian yang belum tentu besok depan jadi jodohmu.

Komentar