Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Poem

PUISI: TEDUHNYA HATI

15 MENIT SAJA Dalam sehari ada 24 jam Berbagai macam di habiskan Dari aktif sampai pasif Kegiatan habis dipakai Lupa akan hal sepele nan bermakna Entah lupa atau melupakan Tidak peduli siapa sedari dulu menyangga Niatan menengokpun hampa Haruskah diingatkan Masa dimana ketika banyak badai menerpa, menerjang, melanda Sesibukkah itu sampai lupa Hampir 18 jam kau gunakan kerja Yang dirumah hanya butuh kehadiran Bukan kegemilangan, juga bukan keuangan  Hanya dibutuhkan 15 menit saja dari kesibukanmu Meluangkan waktu tuk sekedar bersapa, bertanya kabar Tidakkah duniawi cukup untuk sebuah kebahagiaan? Kalau tanpa dilandasi kasih sayang dan perhatian NALURIKU Berbisik dalam hati Menyuarakan kebenaran hakiki Yang takkan tertandingi Selalu benar apa yang ku ingin Rasanya kayak punya teman sejati Disaat tak bisa kuungkap Sesuatu dalam jiwa Naluriku jadi tempat sembunyi Menemani hariku yang sepi Ulfatul Khabibah

PUISI: ASMARA

KESEMPATAN KEDUA Diam meratapi kisah klasik hidup Gundah jalani skenario yang datangkan gugup Jadinya apa, apakah tak satupun kesempatan Runtukkan pertahanan yang selama ini tersimpan Berilah kesempatan kedua Tuk tak lagi mendua Jalani semua sampai menua Bahagia bersama nestapa jua Tetapkan hati dan pikiran Hingga akhir hayat Ulfatul Khabibah Sabtu pagi, Surakarta 10 Februari 2018

PUISI: ASMARA KOSONG

Can we be friends? Kau bawa aku dalam tawa Kau tepuk aku dalam mahkota Kau buat aku gundah Kau jadikan semua makna sirat Entah maksud ini apa Aku tak berpikiran meluas Harapanku kau pun tak jua Perasaan lebih itu yang membuat semua pecah Tak ada satu pun kesatuan yang tersisa   Kalau ada itu hanya sebuah kata Bisa hilang kapan saja Keputusan harus ku ambil Bisa jadi   hasilnya perih Dan perasaan itu menghampiri   Akan semua yang ditakutkan terjadi Alhasil ketakutan itu terbukti Semua yang telah terjadi takkan terulang Hilang layaknya debu beterbangan   Kenangan punah mengikuti zaman Ulfatul Khabibah 261117

Sajak Keabsurd-an

KOPI DAN EARPHONE   Satu dengan dengan dua Garpu dengan sendok Buku dengan bolpoin  Aku dengan kamu Itulah satuan yang tak terpisah Saling membutuhkan demi kelangsungan  Menyatu dalam kegunaan  Membuat yang lain iri Layaknya kopi dan earphone Mereka tak bisa disatukan Tapi demi kenikmatan hakiki Rintangan air panas diarungi Akhirnya terbayar sudah Pengorbanan akan kesatuan  Kini mereka disatukan oleh ruang dan waktu Dalam meheningan sesaat Ulfatul Khabibah  Sukoharjo, 201117